Selasa, 15 April 2014
Perubahan Iklim Global
PERUBAHAN IKLIM GLOBAL
Dewasa ini meningkatnya konsentrasi gas-gas rumah kaca (CO2, CH4, CFC,
HFC, N2O), terutama peningkatan konsentrasi CO2, di atmosfir menyebabkan
terjadinya global warming (peningkatan suhu udara secara global) yang
memicu terjadinya global climate change (perubahan iklim secara global).
Fenomena ini memberikan berbagai dampak yang berpengaruh penting
terhadap keberlanjutan hidup manusia dan makhluk hidup lainnya di planet
bumi ini, di antaranya adalah pergeseran musim dan perubahan
pola/distribusi hujan yang memicu terjadinya banjir dan tanah longsor
pada musim penghujan dan kekeringan pada musim kemarau, naiknya muka air
laut yang berpotensi menenggelamkan pulau-pulau kecil dan banjir rob,
dan bencana badai/gelombang yang sering meluluhlantakan sarana-prasarana
penopang kehidupan di kawasan pesisir.
Perubahan iklim global sebagai implikasi dari pemanasan global telah
mengakibatkan ketidakstabilan atmosfer di lapisan bawah terutama yang
dekat dengan permukaan bumi. Pemanasan global ini disebabkan oleh
meningkatnya gas-gas rumah kaca yang dominan ditimbulkan oleh
industri-industri. Gas-gas rumah kaca yang meningkat ini menimbulkan
efek pemantulan dan penyerapan terhadap gelombang panjang yang bersifat
panas (inframerah) yang diemisikan oleh permukaan bumi kembali ke
permukaan bumi.
Pengamatan temperatur global sejak abad 19 menunjukkan adanya perubahan
rata-rata temperatur yang menjadi indikator adanya perubahan iklim.
Perubahan temperatur global ini ditunjukkan dengan naiknya rata-rata
temperatur hingga 0.74oC antara tahun 1906 hingga tahun 2005. Temperatur
rata-rata global ini diproyeksikan akan terus meningkat sekitar
1.8-4.0oC di abad sekarang ini, dan bahkan menurut kajian lain dalam
IPCC diproyeksikan berkisar antara 1.1-6.4oC.
A. Pengertian Perubahan Iklim Global
Iklim merupakan sintesis kejadian cuaca selama kurun waktu yang panjang,
yang secara statistik cukup dapat dipakai untuk menunjukkan nilai
statistik yang berbeda dengan keadaan pada setiap saatnya (World Climate
Conference, 1979). Sedangkan menurut Paulus Winarso (2007) iklim adalah
rata-rata kondisi fisis udara(cuaca) pada kurun waktu tertentu (harian,
mingguan, bulanan, musiman dan tahunan yang diperlihatkan dari ukuran
catatan unsur-unsurnya (suhu, tekanan, kelembaban, hujan, angin, dan
sebagainya). Menurut Hidayati (2007) studi tentang iklim mencakup kajian
tentang fenomena fisik atmosfer sebagai hasil interaksi proses-proses
fisik dan kimiafisik yang terjadi di udara (atmosfer) dengan permukaan
bumi. Keduanya saling mempengaruhi, aktivitas atmosfer dikendalikan oleh
fisiografi bumi, dan fluktuasi iklim berpengaruh terhadap aktivitas di
muka bumi. Iklim selalu berubah menurut ruang dan waktu. Dalam skala
waktu perubahan iklim akan membentuk pola atau siklus tertentu, baik
harian, musiman, tahunan maupun siklus beberapa tahunan . Selain
perubahan yang berpola siklus, aktivitas manusia menyebabkan pola iklim
berubah secara berkelanjutan, baik dalam skala global maupun skala
lokal. Menurut Kolaborasi Bali Climate Change (2007) Perubahan Iklim
Global adalah perubahan pola perilaku iklim dalam kurun waktu tertentu
yang relatif panjang (sekitar 30 tahunan). Sedangkan menurut Agus
Winarso (2007) Perubahan Iklim Global adalah perubahan unsur-unsur iklim
(suhu, tekanan, kelembaban, hujan, angin,dan sebagainya) secara global
terhadap normalnya..
Ini bisa terjadi karena efek alami. Namun, saat ini yang terjadi adalah
perubahan iklim akibat kegiatan manusia. Perubahan iklim terjadi akibat
peningkatan suhu udara yang berpengaruh terhadap kondisi parameter iklim
lainnya. Perubahan iklim mencakup perubahan dalam tekanan udara, arah
dan kecepatan angin, dan curah hujan.
B. Perubahan Iklim Global Indonesia
Belum ada data komprehensif mengenai dampak perubahan iklim di
Indonesia. Namun beberapa data menunjukkan bahwa:
1. Suhu rata-rata tahunan menunjukkan peningkatan 0,3 derajat
Celcius sejak tahun 1990.
2. Musim hujan datang lebih lambat, lebih singkat, namun curah
hujan lebih intensif sehingga meningkatkan risiko banjir. Pada 2080
diperkirakan sebagian Sumatera dan Kalimantan menjadi 10-30% lebih basah
pada musim hujan; sedangkan Jawa dan Bali 15% lebih kering.
3. Variasi musiman dan cuaca ekstrim diduga meningkatkan risiko
kebakaran hutan dan lahan, terutama di Selatan Sumatera, Kalimantan, dan
Sulawesi (CIFOR 2004).
4. Perubahan pada kadar penguapan air, dan kelembaban tanah akan
berdampak pada sektor pertanian dan ketahanan pangan. Perubahan iklim
akan menurunkan kesuburan tanah sekitar 2% sampai dengan 8%,
diperkirakan akan mengurangi panen padi sekitar 4% per tahun, kacang
kedelai sekitar 10%, dan jagung sekitar 50%.
5. Kenaikan permukaan air laut akan mengancam daerah dan masyarakat
pesisir. Sebagai contoh air Teluk Jakarta naik 57 mm tiap tahun. Pada
2050, diperkirakan 160 km2 dari Kota Jakarta akan terendam air, termasuk
Kelapa Gading, Bandara Sukarno-Hatta dan Ancol (Susandi, Jakarta Post, 7
Maret 2007). Di Bali kerusakan lingkungan pada 140 titik abrasi dari
panjang pantai sekitar 430 km. Laju kerusakan pantai di Bali
diperkirakan 3,7 km per tahun dengan erosi ke daratan 50-100 meter per
tahun (Bali Membangun, 2004). Kerusakan ini ditambah potensi dampak dari
perubahan iklim diduga akan menyebabkan muka air laut naik 6 meter pada
2030, sehingga Kuta dan Sanur akan tergenang (Bali Post, 16 Agustus
2007). Hal ini mengancam keberlangsungan pendapatan dari pariwisata yang
mengandalkan kekayaan dan keindahan pantai dan laut di Bali. Daerah
yang lebih ‘aman’ adalah pantai berkarang yang bersifat terjal, seperti
Uluwatu dan Nusa Penida serta daerah perbukitan dan pegunungan yang saat
ini mempunyai ketinggian di atas 50 meter.
6. Sebagai negara kepulauan terbesar di dunia, Indonesia menghadapi
risiko kehilangan banyak pulau-pulau kecilnya dan penciutan kawasan
pesisir akibat kenaikan permukaan air laut. Wilayah Indonesia akan
berkurang dan akan ada pengungsi dalam negeri.
7. Dampak kenaikan muka air laut akan mengurangi lahan pertanian
dan perikanan yang pada akhirnya akan menurunkan potensi pendapatan
rata-rata masyarakat petani dan nelayan. Kerusakan pesisir dan bencana
yang terkait dengan hal itu akan mengurangi pendapatan negara dan
masyarakat dari sektor pariwisata. Sementara itu, negara harus menaikkan
anggaran untuk menanggulangi bencana yang meningkat, mengelola dampak
kesehatan, dan menyediakan sarana bagi pengungsi yang meningkat akibat
bencana. Industri di kawasan pesisir juga kemungkinan besar akan
menghadapi dampak ekonomi akibat permukaan air laut naik. Kesemuanya ini
akan meningkatkan beban anggaran pembangunan nasional dan daerah.
Dampak-dampak ini memang sering dikatakan sebagai ”diperkirakan”, tetapi
perubahan pola cuaca, intensitas hujan dan musim kering, serta
peningkatan bencana sudah mulai kita rasakan sekarang, tidak perlu
menunggu 2030 atau 2050. Kalau peningkatan suhu rata-rata bumi tidak
dibatasi pada 2oC maka dampaknya akan sulit dikelola manusia maupun alam
C. Penyebab Perubahan Iklim Global
Penyebab perubahan iklim global seharusnya dibiarkan terjadi secara
alami. Namun, campur tangan manusia terhadap alam semesta telah
mempercepat perubahan tersebut secara signifikan.
Pemanasan Global
Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC), sebuah wadah diskusi
Internasional yang khusus menyoroti tentang perubahan iklim dunia, pada
2007 lalu telah menyatakan secara eksplisit apa yang terjadi muka bumi
ini.
Di antaranya isu pemanasan global yang telah dan sedang terjadi saat
ini, temperatur bumi yang makin meningkat sebagai dampak dari
tangan-tangan manusia, dilihat dari gejala yang sedang terjadi sekarang
seperti suhu yang ekstrem, gelombang panas bumi, dan hujan lebat yang
turun tidak sesuai dengan siklusnya dalam frekuensi yang terus
meningkat. Dapat dipastikan, hal-hal tersebut akan terus meningkat pada
tahun-tahun selanjutnya.
Pada 2009 akhir, kondisi kaki Gunung Mount Everest terlihat cukup
memprihatinkan. Es dan salju yang membentuk gletser pada puncak Mount
Everest telah mencair hingga membentuk danau es. Kejadian ini
mencemaskan para penduduk Nepal yang ada di sekitar kaki gunung. Untuk
membicarakan hal tersebut kepala pemerintah Nepal bersama para perdana
menterinya berdiskusi dengan cara berkumpul di kaki Gunung Everest.
Tindakan ini merupakan inisiatif pemerintah terhadap perubahan iklim
yang ternyata bukan hanya mempengaruhi kondisi geografis Nepal, namun
juga kondisi bumi secara keseluruhan.
Hasil pembahasan ini dibawa ke Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) PBB di
Dalam konferensi itu disepakati beberapa hal untuk menghentikan
perubahan iklim global. Di antaranya pengakuan mendesak bahwa suhu bumi
tidak boleh naik 2 derajat Celcius, bantuan finansial untuk negara
berkembang dalam bentuk dana iklim senilai 100 miliar dolar mulai tahun
2020, dan pengawasan terhadap janji mengurangi emisi CO2 namun
prosentase kadar emisinya tidak ditentukan sampai batas tertentu.
Untuk bisa melakukan semua ide tersebut dibutuhkan kerja keras seluruh
pihak baik pemerintah maupun warga masyarakat tanpa terkecuali sebagai
penduduk bumi. Memulai sesuatu memang tidak mudah, tapi dengan tekad
yang kuat dan konsep yang tepat dan terarah, panas bumi dapat diturunkan
hingga batas normal.
Efek Rumah Kaca
Perlu diketahui bahwa faktor utama penyebab terjadinya perubahan iklim
global adalah adanya efek rumah kaca yang banyak digunakan untuk
kegiatan industri yang dimulai sejak Revolusi Industri sejak abad 19.
Lahan hijau banyak yang diratakan dengan tanah untuk dijadikan kawasan
industri dengan dibangunnya bangunan-bangunan untuk kegiatan produksi
dan pemukiman penduduk. Hal ini membuat penduduk dunia di berbagai
belahan bumi berbondong-bondong melakukan migrasi dari desa ke kota
untuk ambil bagian dalam kegiatan industri tersebut. Radiasi sinar
matahari leluasa dipancarkan ke bumi dan terperangkap dalam rumah-rumah
kaca. Hal ini menyebabkan peningkatan konsentrasi gas-gas rumah kaca di
atmosfer bumi. Atmosfer pun mengalami peningkatan suhu. Penggunaan
aerosol dan emisi gas nuangan yang tidak sesuai semakin menambah jumlah
emisi yang terperangkap dalam rumah kaca.
D. Dampak Perubahan Iklim Global
Menurut laporan IPCC tahun 2001, bahwa suhu udara global sejak 1861
telah meningkat 0.6oC, dan pemanasan tersebut terutama disebabkan oleh
aktifitas manusia yang menambah gas-gas rumah kaca ke atmosfer. IPCC
memprediksi pada tahun 2100 akan terjadi peningkatan suhu rata-rata
global akan meningkat 1.4 – 5.8 oC (2.5 – 10.4 oF). Dilaporkan pula
bahwa suhu bumi akan terus meningkat walaupun konsentrasi GRK di
atmosfer tidak bertambah lagi di tahun 2100, karena GRK yang telah
dilepaskan sebelumnya sudah cukup besar dan masa tinggal nya (life time)
cukup lama bisa sampa seratus tahun. Bila emisi GRK masih terus
meningkat, para ahli memprediksi konsentrasi CO2 akan meningkat hingga
3x lipat pada awal abad ke 22 bila dibandingkan dengan kondisi
pra-industri. Dampak dari pemanasan global terhadap lingkungan dan
kehidupan, dapat dibedakan menurut tingkat kenaikan suhu dan rentang
waktu (Gambar 1). Bila suhu bumi meningkat hingga 3oC diramalkan
sebagian belahan bumi akan tenggelam, karena meningkatnya muka air laut
akibat melelehnya es di daerah kutub, misalnya Bangladesh akan
tenggelam. Bencana tzunami akan terjadi lagi di beberapa tempat,
kekeringan dan berkurangnya beberapa mata air, kelaparan dimana-mana.
Akibatnya banyak penduduk dari daerah-daerah yang terkena bencana akan
mengungsi ke tempat lain. Peningkatan jumlah pengungsi di suatu tempat
akan berdampak terhadap stabilitas sosial dan ekonomi, kejadian tersebut
sudah sering kita dengar terjadi di Indonesia paska bencana.
Perubahan yang lain adalah meningkatnya intensitas kejadian cuaca yang
ekstrim, serta perubahan jumlah dan pola presipitasi.
Perubahan-perubahan tersebut akan berpengaruh terhadap hasil pertanian,
berkurangnya salju di puncak gunung, hilangnya gletser dan punahnya
berbagai jenis flora dan fauna. Akibat perubahan global tersebut akan
mempengaruhi kebijakan pemerintah dalam perencanaan dan pengembangan
wilayah, pengembangan pendidikan dan sebagainya. Guna menghindari
terjadinya bencana besar yang memakan banyak korban, para ilmuan telah
membuat beberapa prakiraan mengenai dampak pemanasan global.
1. Tinggi muka laut
Peningkatan suhu atmosfer akan diikuti oleh peningkatan suhu di
permukaan air laut, sehingga volume air laut meningkat maka tinggi
permukaan air laut juga akan meningkat. Pemanasan atmosfer akan
mencairkan es di daerah kutub terutama di sekitar pulau Greenland (di
sebelah utara Kanada), sehingga akan meningkatkan volume air laut.
Kejadian tersebut menyebabkan tinggi muka air laut di seluruh dunia
meningkat antara 10 - 25 cm selama abad ke-20. Para ilmuan IPCC
memprediksi peningkatan lebih lanjut akan terjadi pada abad ke-21
sekitar 9 - 88 cm (Gambar 2).
Perubahan tinggi muka laut akan sangat mempengaruhi kehidupan di daerah
pantai. Kenaikan 100 cm (40 inchi) akan menenggelamkan 6 % daerah
Belanda, 17.5% daerah Bangladesh dan banyak pulau-pulau. Dengan
meningkatnya permukaan air laut, peluang terjadi erosi tebing, pantai,
dan bukit pasir juga akan meningkat. Bila tinggi lautan mencapai muara
sungai, maka banjir akibat air pasang akan meningkat di daratan. Bahkan
dengan sedikit peningkatan tinggi muka laut sudah cukup mempengaruhi
ekosistem pantai, dan menenggelamkan sebagian dari rawa-rawa pantai.
Negara-negara kaya akan menghabiskan dana yang sangat besar untuk
melindungi daerah pantainya, sedangkan negaranegara miskin mungkin hanya
dapat melakukan evakuasi penduduk dari daerah pantai.
2. Mencairnya es di kutub utara
Para ilmuan juga memperkirakan bahwa selama pemanasan global, daerah
bagian Utara dari belahan Bumi Utara (Northern Hemisphere) akan memanas
lebih dari daerah-daerah lain di Bumi. Akibatnya, gunung-gunung es akan
mencair dan daratan akan mengecil, akan lebih sedikit es yang terapung
di perairan Utara sehingga populasi flora dan fauna semakin terbatas.
Pada daerahdaerah pegunungan subtropis, bagian yang ditutupi salju akan
semakin sedikit serta akan lebih cepat mencair dan musim tanam akan
lebih panjang di beberapa area.
3. Jumlah curah hujan
Meningkatnya suhu di atmosfer akan berpengaruh terhadap kelembaban
udara. Pada daerah-daerah beriklim hangat akan menjadi lebih lembab
karena lebih banyak air yang menguap dari lautan, sehingga akan
meningkatkan curah hujan, rata-rata, sekitar 1 % untuk setiap 1oC F
pemanasan. Dalam seratus tahun terakhir ini curah hujan di seluruh dunia
telah meningkat sebesar 1 %. Intensitas curah hujan telah meningkat
akhir-akhir ini bila dibandingkan dengan waktu 1950 -1999. Para ahli
telah memperkirakan perubahan curah hujan yang akan terjadi di Asia
Tenggara (Lal et al., 2001 dalam Santoso dan Forner, 2006) bahwa
presipitasi di Asia Tenggara akan meningkat 3.6% di tahun 2020-an dan
7.1% di tahun 2050, serta 11.3% di tahun 2080-an. Dengan menggunakan
model simulasi (IS92a pakai dan tanpa aerosol) diperkirakan iklim di
Asia Tenggara akan menjadi lebih panas dan lebih basah dari pada kondisi
yang kita miliki saat ini (Gambar 3). Dengan berpeluang besar untuk
terjadi banjir dan longsor di musim penghujan dan kekeringan di musim
kemarau.
E. Dampak Perubahan Iklim Global terhadap Indonesia
Perubahan iklim global akan memberikan dampak yang sangat parah bagi
Indonesia karena posisi geografis yang terletak di ekuator, antara dua
benua dan dua samudera, negara kepulauan dengan 81.000 km garis pantai
dengan dua pertiga lautan, populasi penduduk nomor empat terbesar di
dunia dengan tingkat kesadaran lingkungan yang rendah, degenerasi
kearifan budaya lokal, pendidikan yang tidak memadai, keterampilan
rendah, keterbelakangan iptek, kepedulian sosial minim, dibelit
kemiskinan dan kesulitan ekonomi, kelemahan pemerintahan, korupsi,
kurangnya kepemimpinan, serta kelakuan yang buruk dari pengusaha dan
institusi internasional. Posisi geografis Indonesia menyebabkan bahwa
pada setiap saat di dalam wilayah negara ini ada musim-musim yang saling
berlawanan dan bersifat ekstrim, di satu wilayah terjadi kekeringan dan
kekurangan air, di wilayah lain terjadi banjir.
Pengamatan temperatur global sejak abad 19 menunjukkan adanya perubahan
rata-rata temperatur yang menjadi indikator adanya perubahan iklim.
Perubahan temperatur global ini ditunjukkan dengan naiknya rata-rata
temperatur hingga 0.74oC antara tahun 1906 hingga tahun 2005. Temperatur
rata-rata global ini diproyeksikan akan terus meningkat sekitar
1.8-4.0oC di abad sekarang ini, dan bahkan menurut kajian lain dalam
IPCC diproyeksikan berkisar antara 1.1-6.4oC.
Perubahan temperatur atmosfer menyebabkan kondisi fisis atmosfer kian
tak stabil dan menimbulkan terjadinya anomali-anomali terhadap parameter
cuaca yang berlangsung lama. Dalam jangka panjang anomali-anomali
parameter cuaca tersebut akan menyebabkan terjadinya perubahan iklim.
Dampak-dampak yang ditimbulkan oleh perubahan iklim tersebut diantaranya
adalah :
1. Semakin banyak penyakit (Tifus, Malaria, Demam, dll.)
2. Meningkatnya frekuensi bencana alam/cuaca ekstrim (tanah longsor,
banjir, kekeringan, badai tropis, dll.)
3. Mengancam ketersediaan air
4. Mengakibatkan pergeseran musim dan perubahan pola hujan
5. Menurunkan produktivitas pertanian
6. Peningkatan temperatur akan mengakibatkan kebakaran hutan
7. Mengancam biodiversitas dan keanekaragaman hayati
8. Kenaikan muka laut menyebabkan banjir permanen dan kerusakan
infrastruktur di daerah pantai
Terdapat dua dampak yang menjadi isu utama berkenaan dengan perubahan
iklim, yaitu fluktuasi curah hujan yang tinggi dan kenaikan muka laut
yang menyebabkan tergenangnya air di wilayah daratan dekat pantai.
Dampak lain yang diakibatkan oleh naiknya muka laut adalah erosi pantai,
berkurangnya salinitas air laut, menurunnya kualitas air permukaan, dan
meningkatnya resiko banjir.
Musibah angin kencang dan gelombang pasang bisa terjadi setiap waktu dan
sulit diprediksi jauh-jauh. Produksi pertanian, khususnya tanaman
pangan, menjadi semakin sulit dan menimbulkan kerawanan pangan. Hubungan
transportasi dan komunikasi antar pulau akan semakin sulit dan
berbahaya. Semuanya akan bermuara pada disintegrasi negara kesatuan RI.
Panjang garis pantai akan berkurang dengan naiknya permukaan laut,
ratusan ribu kilometer persegi daratan di pesisir pantai akan hilang
ditelan laut dan bersamanya akan ikut tenggelam pula kota -kota dan desa
pesisir yang menjadi permukiman dari lebih seratus juta orang yang
sebagian besar miskin serta asset dan infrastruktur bernilai trilyunan
Euro. Pesatnya peningkatan permukaan laut ini tidak akan mampu diimbangi
dengan kecepatan untuk memindahkan penduduk dan menggantikan
infrastruktur yang hilang. Belum lagi tiadanya modal untuk
melaksanakannya. Bencana besar itu akan datang dalam hitungan beberapa
dekade saja apabila upaya antisipasi tidak dilakukan, baik secara
regional maupun global.
Kepedulian terhadap lingkungan sangat minim. Kearifan budaya lokal untuk
menjaga keseimbangan lingkungan dikalahkan oleh kebutuhan ekonomi,
keserakahan, serta inefisiensi dalam pemanfaatan sumberdaya. Erosi hutan
alam terjadi dengan kecepatan tinggi menyebabkan banjir, tanah longsor
dan kekeringan. Erosi hutan bakau menyebabkan abrasi pantai. Penduduk
yang di pantai tenggelam, yang di gunung tertimbun, yang di tengah
kehausan. Kebakaran dan pembakaran hutan menimbulkan asap yang
menyesakkan bagi penduduk sendiri maupun penduduk negara tetangga. Belum
lagi dampak ke penduduk dunia lain karena menurunnya kemampuan hutan
untuk menghasilkan oksigen dan menyerap gas-gas polutan lainnya yang
berpengaruh besar pada perubahan iklim dunia. Indonesia adalah pemilik
wilayah hutan tropis terluas kedua di dunia.
Kemampuan pemerintah untuk menata ruang dan membuat peraturan kurang
mempertimbangkan lingkungan. Itupun masih ditambah lagi dengan kelemahan
penegakan hukum dan disiplin kepemimpinan. Korupsi dan ketidakpedulian
membuat upaya menjaga dan memperbaiki ekosistem makin parah. Hal yang
paling merisaukan adalah perbuatan dari pengusaha dan institusi
internasional yang mempunyai kepentingan politik, ekonomi dan lainnya.
Mereka memberikan iming-iming dan arahan yang menyesatkan ditengah
keluguan, kerakusan, serta kebodohan pejabat pemerintah pusat, daerah
dan pengusaha lokal. Mereka inilah yang menjadi penadah dari penggalian
sumberdaya alam yang tidak bertanggungjawab ini. Barulah setelah dampak
perubahan iklim global mulai mengancam kehidupan mereka juga maka
Indonesia ditekan untuk memperhatikan lingkungan. Sayangnya, mereka
sendiri enggan mengurangi polusi yang dihasilkan oleh industri di negara
masing-masing. Padahal, mereka justru pencemar lingkungan yang paling
besar yang selama ini menjadi sumber utama perubahan iklim global.
Kegagalan Indonesia untuk menyelamatkan diri dari perubahan iklim dapat
dipastikan akan menyeret juga negara-negara lain di dunia ke dalam
permasalahan yang sama, hanya waktunya saja yang berbeda. Kiamat akan
datang dari Indonesia dan menyebar ke seluruh dunia.
Grup pemerhati pemanasan global telah merangkum dan menyusun informasi
di internet tentang akibat dari pemanasan global di Indonesia baik
ditinjau dari aspek lingkungan, sosial, ekonomi, kesehatan dan budaya.
1. Ketahanan Pangan Terancam
Produksi Pertanian Tanaman pangan dan perikanan akan berkurang akibat
banjir, kekeringan, pemanasan dan tekanan air, serangan hama dan
penyakit, kenaikan air laut, serta angin yang kuat. Perubahan iklim juga
akan mempengaruhi waktu tanam dan waktu panen, di beberapa tempat masa
tanam lebih panjang tetapi di lain tempat justru menjadi lebih singkat.
Peningkatan suhu 1oC diperkirakan akan menurunkan panen padi di negara
tropis sebanyak 10%. Dengan demikian bahaya kelaparan akan mengancam
penduduk di mana-mana.
2. Risiko Kesehatan
Cuaca yang ekstrim akan mempercepat penyebaran penyakit baru dan bisa
memunculkan penyakit lama yang sudah jarang ditemukan saat ini. Badan
Kesehatan PBB memperkirakan bahwa peningkatan suhu dan curah hujan
akibat perubahan iklim sudah menyebabkan kematian 150.000 jiwa setiap
tahun. Penyakit seperti malaria, diare, dan demam berdarah (dengee)
diperkirakan akan meningkat di negara tropis seperti Indonesia.
3. Air
Ketersediaan air berkurang 10%-30% di beberapa kawasan terutama di
daerah tropika kering. Kelangkaaan air akan menimpa jutaan orang di Asia
Pasifik akibat musim kemarau berkepanjangan dan intrusi air laut ke
daratan. Masyarakat yang tinggal di sepanjang pantai akan sangat
menderita.
4. Ekonomi
Kehilangan lahan produktif akibat kenaikan permukaan laut dan
kekeringan, bencana, dan risiko kesehatan mempunyai dampak pada ekonomi.
Sir Nicolas Stern, penasehat perdana menteri Inggris mengatakan bahwa
dalam 10 atau 20 tahun mendatang perubahan iklim akan berdampak besar
terhadap ekonomi. Stern mengatakan bahwa dunia harus berupaya mengurangi
emisi dan membantu negara-negara miskin untuk beradaptasi terhadap
perubahan iklim demi kelangsungan pertumbuhan ekonomi. Ia menjelaskan
bahwa dibutuhkan investasi sebesar 1% dari total pendapatan dunia untuk
mencegah hilangnya 5%-20% pendapatan di masa mendatang akibat dampak
perubahan iklim.
5. Dampak sosial, budaya dan politik
Bencana terkait perubahan iklim akan meningkatkan jumlah pengungsi di
dalam suatu negara maupun antar negara. Proses mengungsi ini membuat
orang menjadi miskin dan terpisah dari akar sosial dan budaya mereka,
terutama hubungan dengan tanah leluhur dan kearifan budaya mereka. Di
sisi lain, krisis pangan, air dan sumberdaya terus meningkat, sehingga
akan menimbulkan konflik horizontal dan akhirnya bisa memicu konflik
politik di dalam negara maupun antar negara.
6. Dampak Lingkungan – kepunahan.
Hewan dan tumbuhan menjadi makhluk hidup yang sulit menghindar dari efek
pemanasan global karena sebagian besar lahan akan dihuni manusia.
Tumbuhan akan mengubah arah pertumbuhannya, mencari daerah baru karena
habitat lamanya menjadi terlalu hangat. Banyak jenis makhluk hidup akan
terancam punah akibat perubahan iklim dan gangguan pada kesinambungan
wilayah ekosistem (fragmentasi ekosistem), misalnya terumbu karang akan
kehilangan warna akibat cuaca panas, menjadi rusak atau bahkan mati
karena suhu tinggi. Para peneliti memperkirakan bahwa 15%-37% dari
seluruh spesies dapat menjadi punah di enam wilayah bumi pada 2050.
Keenam wilayah yang dipelajari mewakili 20% muka bumi.
F. Dampak Perubahan Iklim terhadap Pertanian dan Perikanan
Berdasarkan data dan keterangan dari beberapa lembaga dan peneliti iklim
dan cuaca, perubahan iklim global telah mempengaruhi pertanian dan
perikanan dunia. Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika juga
menerangkan bahwa telah terjadi penyimpangan cuaca di Indonesia sebagai
akibat dari anomali suhu permukaan laut yang cenderung hangat. Anomali
ini juga terjadi di beberapa negara diantaranya Pakistan, Cina dan
Rusia.
Di Kabupaten Sumbawa sendiri dampak dari global climate change ini tidak
hanya dirasakan oleh para nelayan yang fokus usahanya mencari dan
menangkap ikan di laut, namun juga seluruh kalangan masyarakat terutama
petani yang mana profesi ini digeluti oleh sebagian besar masyarakat
Pulau Sumbawa dan Indonesia umumnya.
Setahun terakhir banyak sekali petani yang mengalami gagal panen dan
nelayan tidak melaut akibat kondisi iklim dan cuaca yang tidak menentu.
Jadwal dan pola tanampun mengalami perubahan, kondisi ini diperparah
karena sebagian besar petani dan nelayan kita khususnya di Kabupaten
Sumbawa merupakan bertani dan nelayan tradisional yang mana iklim dan
cuaca merupakan faktor penentu sekaligus pembatas keberhasilan usaha
mereka.
Jane Lubchenco Kepala Badan Nasional Kelautan dan Atmosfir (NOAA)
Amerika Serikat dalam kunjungannya ke Indonesia beberapa waktu lalu
menerangkan bahwa perubahan iklim telah menimbulkan sirkulasi arus laut
dunia atau yang selama ini dikenal dengan sebutan Great Ocean Conveyor
Belt telah berubah. Hal ini menimbulkan dampak yang signifikan terhadap
laut dan mengakibatkan kondisi yang ekstrem. Air laut bisa menjadi
sangat panas atau sebaliknya sangat dingin sekali.
Sementara itu Kepala Badan Riset Kelautan dan Perikanan (BRKP) Dr.
Gellwynn Yusuf dalam salah satu media masa nasional mengatakan, dengan
berubahnya sirkulasi arus laut dunia, akan membawa dampak yang sangat
besar khususnya di bidang perikanan. Hasil kajian ilmiah yang dilakukan
oleh K.E.Trenberth membuktikan bahwa selama 50 tahun terakhir, suhu
atmosfir bumi dan konsentrasi karbon dioksida (CO2) terus meningkat,
yang secara langsung kondisi ini juga menaikkan suhu bumi termasuk
komponen akuatik, yaitu sungai, danau dan laut. Dalam salah satu
tulisannya “Effects of Global Climate Change on Marine and Estuarine
Fishes and Fisheries”, J.M. Roessig menyebutkan bahwa dalam 10 tahun
terakhir, paras laut meningkat setinggi 0,1-0,3 m dan kemungkinan
menutupi area seluas 1 juta km2. Armi Susandi, pakar perubahan iklim
dari Institut Teknologi Bandung juga sepakan akan hal ini, dia
mengatakan bahwa jika permukaan air laut naik setinggi 1 meter,
diperkirakan lahan persawahan seluas 346.808 hektar dan juga 700 buah
pulau di Indonesia akan terancam tenggelam yang mana 5% diantaranya
pulau yang berpenghuni.
Jika tidak segera ditangani dan berupaya mencari solusi yang tepat,
perubahan iklim global (global climate change) dikhawatirkan akan
mengancam sistem ketahanan pangan kita. Bahkan saat ini disadari atau
tidak global climate change telah memberikan dampak pada sektor industri
pertanian dan perikanan di Indonesia dan dunia baik yang bersekala
besar maupun tradisional, pada akhirnya kondisi ini berimbas pada
menurunya pendapatan sekaligus menghambat perputaran roda perekonomian
masyarakat.
Karena dampak dari global climate change ini dapat terjadi secara
langsung maupun tidak langsung serta muncul dalam variasi waktu yang
berbeda, maka dibutuhkan kesigapan, strategi dan perencanaan yang matang
dari pemerintah dan pmerintah daerah dengan memanfaatkan inovasi
teknologi, melakukan kajian yang konfrehansif dan multidisipliner serta
menjalin kerja sama dengan semua pihak untuk dapat menduga sekaligus
mengantisipasi dampak yang lebih luas dari fenomena perubahan iklim
global (global climate change) ini.
G. Dampak Perubahan Iklim terhadap Mangrove di Indonesia
Perubahan iklim memiliki dampak yang cukup besar bagi Indonesia. Dampak
tersebut diantaranya adalah perubahan pola dan distribusi curah hujan,
bencana banjir dan tanah longsor, dan naiknya permukaan air laut.
Sebagai negara kepulauan terbesar di dunia, Indonesia menghadapi resiko
kehilangan banyak pulau-pulau kecil dan menyempitnya kawasan pesisir
akibat naiknya permukaan air laut. Gregory dan Oerlemans (1998)
memprediksi suhu udara meningkat sekitar 0,30C dan peningkatan muka air
laut global sekitar 6 cm setiap 10 tahun. Susandi et al. (2008)
memprediksi kenaikan muka air laut untuk wilayah Indonesia hingga tahun
2100 sekitar 1,1 m yang berdampak pada hilangnya daerah pantai dan
pulau-pulau kecil seluas 90.260 km2 atau tenggelamnya sekitar 115 buah
pulau. Selain itu para ahli telah memperkirakan presipitasi di Asia
Tenggara yang akan meningkat sekitar 3,6% di tahun 2020-an, 7,1% di
tahun 2050, dan 11,3% di tahun 2080-an. Nampaknya iklim di Asia Tenggara
di masa yang akan datang akan menjadi lebih panas dan lebih basah
daripada kondisi saat ini yang memicu terjadinya banjir dan longsor di
musim penghujan, dan kekeringan di musim kemarau. Berdasarkan fenomena
di atas, maka perubahan iklim global akan menyebabkan hilangnya hutan
mangrove yang tumbuh di pulau-pulau kecil seiring dengan tenggelamnya
pulau-pulau tersebut. Disamping itu, akan terjadi penyempitan lebar
hutan mangrove yang tumbuh di pantai-pantai pulau yang tidak tenggelam
tetapi lahan di kawasan pesisir di belakang mangrove banyak diokupasi
oleh penduduk. Namun, bagi mangrove yang tumbuh di kawasan pesisir yang
tidak banyak diokupasi oleh penduduk, diperkirakan lebar mangrove akan
meluas ke pedalaman.
H. Pencegahan dan Penanggulangan Perubahan Iklim Global
Perubahan iklim ini harus diatasi bersama-sama dan tidak ditunda-tunda.
Setiap negara harus memberi kontribusi dengan tindakan-tindakan yang
dilakukan di dalam negerinya sendiri sesuai kemampuan masing-masing.
Negara maju harus membantu negara miskin. Bentuk bantuan itu tidak saja
berupa bantuan teknis dan ekonomi, namun dibutuhkan juga tekanan politik
yang positif untuk menanamkan urgensi masalah ini dan mendapatkan
komitmen dari para pemimpin untuk bertindak.
Apabila negara-negara maju mau memperlambat laju pertumbuhan
kemakmurannya dan memberikan kesempatan kepada negara yang miskin untuk
meningkatkan kemakmuran dengan cara yang bertanggungjawab terhadap
lingkungannya, maka pada suatu saat akan tercapai suatu ekuilibrium yang
membuat perbuatan manusia semakin berimbang dan perubahan iklim global
pun akan cenderung kembali ke arah yang positif.
Mengingat begitu seriusnya dampak pemanasan global dan perubahan iklim
kiranya sangat penting untuk melakukan upaya-upaya pencegahan terutama
dimulai dari hal-hal kecil yang dapat kita lakukan pada skala rumah
tangga seperti di bawah ini
1. Hemat penggunaan listrik
a. Gunakan lampu hemat energi
b. Pilih alat-alat elektronik yang kapasitasnya sesuai kebutuhan
rumahtangga kita, misalnya Magic Com/Magic Jar sesuai kebutuhan
sekeluarga sehari;
c. Gunakan mesin cuci sesuai kapasitasnya, bila cucian sangat
sedikit sebaiknya dikumpulkan dahulu hingga sesuai dg kapasitas mesin
cuci kita;
d. Matikan alat-alat elektronik yang sedang tidak digunakan;
e. Upayakan rumah berventilasi baik sehingga tidak terlalu
tergantung pada penggunaan Air Condition (AC);
f. Upayakan rumah mendapatkan cahaya matahari secara optimal
sehingga pada siang hari tidak perlu menggunakan lampu.
2. Hemat penggunaan kertas dan tinta
a. Untuk keperluan menulis konsep/corat-coret sebaiknya menggunakan
kertas bekas, misalnya bekas print yang baliknya masih kosong
b. Batasi penggunaan produk disposable/sekali pakai misalnya: tissue,
diaper/pamper, dsb
c. Kertas-kertas bekas dikumpulkan dan diberikan kepada pemulung.
3. Hemat penggunaan air
Berikut ini tips-tips hemat air:
a. Bila menggunakan shower atau washtafel, matikan kran pada saat
anda bercukur, menggosok gigi dan kramas dengan cara ini anda dapat
berhemat sampai dengan lebih dari 6000 L air perminggu;
b. Kumpulkan air bekas mencuci sayur, gunakan air bekas ini untuk
sekedar menyiram tanaman, merendam lap-lap kotor dll.;
c. Lakukan cuci mobil menggunakan air dalam ember dan lap, jangan
gunakan kran air;
d. Periksa secara berkala dan ganti kran atau pipa air yang mulai
bocor, anda dapat menghemat hingga 9500 Liter air perbulan.
4. Hemat penggunaan bahan bakar
a. Lakukan perawatan yang baik pada mesin kendaraan anda;
b. Periksa tekanan ban kendaraan anda, tekanan ban yang akurat dapat
menghemat BBM;
c. Hindari penggunaan kendaraan yang sistem pembakaran pada mesinnya
sudah tidak efisien;
d. Gunakan kendaraan sesuai kebutuhan, misalnya jika hanya bepergian
sendiri lebih baik gunakan sepeda motor daripada mobil;
5. Pengelolaan sampah/limbah yang baik
a. Pisahkan sampah organik dan non organik, sampah organik. Dapat
dibuat kompos;
b. Sampah organik dapat dibuat bahan isian untuk biopori;
c. Hindari membakar sampah;
d. Bila berbelanja bawalah tas belanjaan sendiri, sehingga
menghindari penggunaan tas plastik.
KESIMPULAN
1. Perubahan Iklim Global adalah perubahan pola perilaku iklim
dalam kurun waktu tertentu yang relatif panjang (sekitar 30 tahunan).
Perubahan Iklim Global ini merupakan perubahan unsur-unsur iklim (suhu,
tekanan, kelembaban, hujan, angin,dan sebagainya) secara global terhadap
normalnya
2. Perubahan iklim global Indonesia dirasakan sebagai kenaikan suhu
rata-rata tiap tahun, musim hujan datang lebih lambat, variasi musiman
dan cuaca ekstrim , kenaikan permukaan air laut, dan lainnya
3. Penyebab perubahan iklim global antara lain adalah efek dari
pemanasan global dan efek rumah kaca
4. Dampak perubahan iklim global antara lain perubahan jumlah curah
hujan, mencairnya es di kutub utara, naiknya permukaan laut, dan
lain-lain.
5. Di Indonesia dampak perubahan iklim global anatara lain
kerusakan pesisir pantai termasuk mangrove, turunnya produksi pertanian
dan perikanan, tingginya variasi penyakit seperti malaria, dan lain-lain
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Kurang lengkap ah wkwk
BalasHapus